Makalah Sejarah Peradaban Islam: “Islam Pada Masa Khulafaurrasyidin”

Standar

A.    Pengertian Khulafa Ar-Rasyidin

Khulafa Ar-Rasyidin adalah pemimpin umat islam setelah Nabi Muhammad Saw wafat, yakni khalifah-kahlifahh yang terpercaya atau mendapat petunjuk. Secara teknis, term Khulafa Ar-Rasyidin berasal dari sebuah riwayat yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Yang bersabda: “Umatku akan terpecah-pecah menjadi 73 golongan, semuanya akan ditempatkan dineraka, kecuali satu golongan saja. Yaitu mereka yang taat pada sunahku dan sunah Khulafa Ar-Rasyidin.

Khalifah “penerus nabi” merupakan jabatan yang dipangku pada sahabat setelah Nabi wafat. Pengertian penerus nabi pun bukanlah siapa yang akan menggantikan Muhammad sebagai nabi melainkan menggantikan sebagai pemimpin umat. Khalifah merupakan singkatan dari khalifah Rasulillah, sedangkan Khilafah merupakan sistem pemerintahannya.

B.     Khalifah – Khalifah yang menjadi Khulafa Ar-Rasyidin

1.      Abu Bakar As-Shiddiq

Nama Abu Bakar adalah Abdullah bin Abi Quhafah at-Tamimi. Silsilahnya berjumpa dengan silsilah Nabi Muhammad pada moyang Murra Ibn Amr Ibn Sa’ad Ibn Taim Ibn Ka’ab Ibn Talib Ibn Fihr Ibn Nadr Ibn Malik. Ibunya bernama Ummu Khair Salma binti Sakhr. Garis keturunan ayah dan ibunya bertemu pada neneknya bernama Ka’b Ibn Sa’d Ibn Taim Ibn Murra, suku besar Quraisy dari belahan Bani Taim. Abu Bakar sewaktu kecil bernama Abdul Ka’bah, kemudian diganti oleh nabi menjadi Abdullah, karena ia paling cepat masuk islam. Menurut Al-Suyuti, nama Abu bakar adalah ‘Atiq, karena terpelihara, terbebas dari api neraka.  Ia diberi kuniyah Abu Bakar artinya orang yang pagi-pagi betul masuk islam. Al-shddiq meripakan gelar yang  diberikan kepadanya setelah dia membenarkan perstiwa Isra Mi’raj Rasulullah.

Abu bakar lahir pada tahum 573 M di mekkah. Setelah ia masuk islam, seluruh hidupnya dibaktikan untuk membela islam. Karena dakwahnya, banyak orang Quraisy ternama masuk islam, seperti Utsman Bi Affan, Zubair bin ‘Awwan, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqas dan Thalhah bin Ubaidillah.

Abu Bakar mempunyai empat istri, pertama Kutala binti ‘Uzza yang melahirkan Abdullah dan ‘asma. Kedua, Ummu Rumman yang melahirkan Abdurrahman dan ‘Aisyah. Ketiga, Asma bin Umays yang melahirkan  Muhammaaad bin Abi Bakar. Keempat, Habibah bin Kharaja yang melahirkan Ummu Kultsum. Beliau ikut bersama-sama Nabi hijrah ke madinah dan bersama nabi pula bersembunyi di gua Tsur. Dari lama dan eratnya hubungan persahabatan beliau dengan Rasulullah serta kejujuran dan kesucian hatinya beliau dapat mendalami jiwa dan semangat  islam lebih dari pada yang didapat orang-orang islam lainnya. Jika nabi berhalangan, abu Bakarlah yang disuruh menjadi imam Shalat. Pada tahun 623 M bersamaan dengan hari wafatnya Rasulullah, beliau diangkat menjadi khalifah setelah dibai’at oleh kaum muslimin. Setelah menjalankan tugas kalifah selama 2 tahun 3 bulan dan 10 hari, beliau wafat pada tanggal 22 jumadil Akhir tahun 13 H atau 23 Agustus 634 M karena Sakit.

2.      Umar Ibn Khattab

Nama lengkapnya adalah Umar ibn Nufail ibn’abdul ‘Uzza ibn Riyah ibn ‘Abdullah ibn Qurth ibn ‘Abdi ibn Ka’ab dari Bani Addiy. Ibunya bernama Hantamah binti Hasyim. Bani Addiy terkenal sebagai suku yang terpandang mulia, megah, dan berkedudukan tinggi. Nasab Umar ibn Khattab dan Nabi Muhammad saw bertemu pada nenek mereka yang bernama Ka’ab bin Luai al-Quraisyin al-Kadawi.

Umar terkenal seorang pemberani, tidak mengenal takut dan gentar, mempunyai ketabahan dan kemauan keras, serta tidak mengenal bingung dan ragu. Masuk islamnya Umar Pertanda do’a nabi Muhammad dikabulkan Allah, yakni permohonannya agar islam dukuatkan dengan salah satu dari ‘Amr ibn Hisyam atu Umar  Khattab. Semula Umar menyandanng gelar Abu Hafs dan setelah masuk islam ia menerima al-faruq (pemisah atau pembeda antara yang hak dan yang batil). Umar benar mengemukakan pikiran-pikiran dan pendapatnya dihadapan nabi, bahkan tidak segan menyampaikan kritik untuk kebaikan  dan kemaslahatan umat islam. Islamnya Umar membawa pengaruh yang besar bagi perjuangan Nabi Muhammad dan perkembangan agama Islam. Hal ini karena Umar seorang yang tegas dalam membela syiar islam sehingga tidak seorang pun dari kalangan Quraisy yang berani menentangnya.

Setelah Abu Bakar meninggal dunia, Umar menjadi khalifah pada tahun 13 H/634 M. masa khalifahnya cukup lama, yakni selama 10 tahun. Diakhir hayatnya beliau ditusuk oleh seorang budak Persia yang bernama Abu Lu’luah atau dikenal dengan nama Feros ketika sedang shalat subuh di masjid Nabawi pada hari Rabu, tanggal 26 Zulhijjah tahun 23 H/3 November 644 M. budak tersebut beragama nasrani dan menjadi hamba sahaya Mughirah ibn Syu’bah setelah ditawan tentara islam di Nahawand. Beliau membunuh khalifah Umar karena dendam pembesar Persia dan pendukungnya terhadap Umar yang telah melenyapkan kekuasaan mereka dari kerajaan Persia. Setelah tiga hari sejak peristiwa penusukan itu, khalifah Umar ibn Khattab meninggal dunia pada hari Sabtu tanggal 29 Zulhijjah tahun 23 H/6 November 644 M dalam usia 63 tahun.

3.      Utsman Ibn Affan

Nama lengkapnya adalah Utsman ibn affan ibn Abil Ash ibn Umayyah ibn Abd as-Syam ibn Abd al-Manaf Al-Quraisy Al-umawy. Ibunya bernama Arwa binti Kuriz ibn Rabi’ah ibn Habib ibn Abd Al-Syam ibn Abd Al-Manaf. Silsilah Utsman ibn Affan dari garis ayah bertemu dengan silsilah Nabi Muhammad saw. Utsman lahir dikota mekkah pada tahun ke enam tahun gajah atau 376 M, kira-kira lima tahun setelah kelahiran Nabi Muhammad saw.

Utsman bin Affan biasa dipanggil dengan sebutan Abu Abdillah, Abu Amer, dan Abu Laila. Sebutan lain yang cukup populer dikalangan kaum muslimin adalah Dzu al-Nurain (memiliki dua cahaya). Setelah Utsman menikah berturut-turut dengan dua putri Nabi Muhammad saw. Pertama ia menikahi Ruqoyyah dan setelah Ruqoyyah meninggal ia nikahkan lagi oleh nabi saw dengan putrinya yang lain yaitu Ummi Kulsum.

Dari golongan bani Umayyah Utsman termasuk orang pertama yang masuk agama islam atas ajakan  Abu Bakar al-Shiddiq dan termasuk kelompok sahabat Assabiqunal-Awwalun yang dijamin masuk surga. Beliau merupakan salah satu sahabat yang dikagumi oleh Rasullah. Berkaitan dengan pola hidupnya yang sederhana walaupun kaya, saleh, dan dermawan. Kekayaannya digunakan untuk kemajuan dan kejayaan islam, diantaranya, membeli sumur Raunah milik seorang yahudi seharga 12.000 dirham ketika kaum muslim madinah kekurangan air, membantu keperluan lasykar pada perang tabuk dengan 950 ekor unta, 59 ekor kuda dan uang sebesar 1000 dinar (1/3 pembiayaan perang), memperluas masjid nabawi senilai 15000 dinar dan masjid al-haram senilai 10000 dinar. Di samping itu, beliau selalu siap kapan saja membantu kaum muslim yang membutuhkan bantuan. Setelah khalifah Umar wafat, Utsman ibn Affan terpilih menjadi khalifah ketiga. Pemerintahannya berlangsung 12 tahun, dari tahhun 23 H/646 M hingga tahun 35 H/656 M. diakhir hayatnya, beliau dibunuh oleh salah seorang warga mesir (al-Gafiki) yang menuntut penyelesaian akibat kebaikannya yang meresahkan masyarakat.

4.      Ali Ibn Abi Tahlib

Nama lengkapnya Ali bin Abi Tahlib ibn Abdul Muthalib ibn Abdul Manaf al-Hasyim  al-Quraisy.  Ibunya bernama Fatimah binti Asad ibn Hasyim ibn Abul Manaf. Beliau lahir pada tahun 21 sebelum hijrah (603M) atau delapan tahun sebelum Nabi SAWdiutus menjadi rasul. Sewaktu lahir, ia diberi nama Haidarah oleh ibunya, kemudian diganti oleh ayahnya dengan Ali. Ketika Muhammad diangkat menjadi Rasul, Ali termasuk pertama yang menyatakan imannya bersama Khadijjah dan Zaid dalam umur yang relatif masih kecil, maka Ali termasuk kanak-kanak yang mula-mula beriman. Ali ketika berumur enam tahun diasuh dan dididik oleh Rasulullah sebagai balas jasa terhadap pamannya yang telah membesarkannya dan mempunyai banyak anak, terlebih lagi ketika Mekah ditimpa  di timpa kelaparan. Ali menjadi anak yang tangguh, perkasa, berbudi luhur, serta berkepribadian yang tinggi. Ali memiliki gelar Karammallahu wajhahu, dikarenakan jiwa dan kepribadiannya yang tidak pernah dinodai pemujaan berhala dimasa itu, tidak berlebihan bila kelak Ali menunjukan kepahlawanan yang menonjol. Kesetiaan dan kecintaannya kepada Rasullah telah dibuktikan sejak mudanya. Pada malam Rasul Hijrah ke madinah bersama Abu Bakar, Ali tidur di tempat tidur Rasullah untuk mengelabuhi orang-orang Quraisy yang mengepung rumah rasul hendak membunuhnya.

Ali termasuk salah seorang tokoh  (Abu Bakar dan Umar) yang telah mengambil pengetahuan, budi pekerti, dan kebersihan jiwa Rasulullah, beliau terkenal dengan kecerdasannya dan memiliki banyak masalah keagamaan secara mendalam hadits yang diriwayatkannyapun banyak. Nabi menggambarkannya sebagaimana sabdanya: aku kota ilmu dan Ali adalah gerbangnya. Keberanian Alipun masyhur dari seluruh peperangan yang dipimpin oleh Rasullah, beliau senantiasa berada di front depan, dan dipercaya oleh Nabi sebagai pemegang panji-panji perang. Kecuali pada perang tabuk, Ali ditugaskan Rasul untuk , menjaga kota Madinah, itupun beliau kecewa dan kalau boleh memilih ia akan ikut berperang. Sifat pemberani (saja’ah) dan keperkasaannya tercatat dalam sejarah islam. Untuk keberaniannya itu, ia mendapat gelar The Lion Of God (Asadullah) atau The Lion Hearted. Selain terkenal dengan keberaniannya, ia terkenal pula sebagai dermawan, berbudi luhur, sederhana, terbuka, terus terang, tulus hati, dan lapang dada. Namun, kesederhanaan, keterusterangannya, dan kelapangdadaannya dipergunakan musuhnya untuk menipunya, karena ia mudah mempercayai orang-orang. Sikap dan sifat Ali tersebut mempengaruhinya dalam menetapkan kebijaksanaan dan menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dalam pemerintahannya. Kadang-kadang sikap tersebut tidak biasa diterima oleh sebagian pengikutnya sehingga pemberontakan yang berakhir dengan mengenaskan, terpental dari kekuasaan bahkan  dengan cara yang lebih buruk dari Utsman.

Selama hidupnya, Ali menikah dengan 9 wanita dan mempunyai 19 anak. Pertama, Ali menikah dengan Fatimah putri Rasullah, mempunyai 2 putra dan 2 putri yaitu Hasan, Husen, Zainab dan Ummu Kulsum. Setelah Fatimah wafat, Ali menikah berturut-turut. Kedua, Ummu Bamin binti Huzam dari bani Amir ibn Kilab, melahirkan 4 putra yaitu Abbas, Ja’far, Abdullah dan Usman. Ketiga, Laila binti Mas’ud at-Tamimah, melahirkan 2 putra yaitu Abdullah dan Abu Bakar. Keempat, Asma binti Umair al-Kuimiah, janda Abu Bakar al-Shiddiq, melahirkan Yahya dan Muhammad. Kelima, As Sahba binti Rabi’ah dari Bani Jasym ibn Bakar, janda dari Bani Taglab, melahirkan Umar dan Ruqayyah. Keenam, Ummah binti Abi Ass ibn Ja’far al-Hanafiah melahirkan Muhammad (al-Hanafiah). Kedelapan, Ummu Sa’id binti Urwah ibn Mas’ud melahirkan Ummu al-Husain dan Ramlah. Kesembilan,  Mahyah binti Imri’ al-Qais al-Kalbiah melahirkan Jariah.

Sistem pemilihan khalifah

1.     Khalifah Abu Bakar As-shiddiq.

Khalifah Abu Bakar memangku jabatan berdasarkan pilihan yang berlangssung secara demokratis dalam pertemuan di Tsaqifah (balairung) Bani Sa’idah. Tata cara tersebut sesuai degan sistem perundingan yang digunakan di zaman modern sekarang ini. Kaum Anshar, menekankan pada persyaratan jasa yang mereka teah berikan bagi umat islam dan pengembangan islam. Karena itu , mereka mengajukan calon sebagai kandidat pemimpin yaitu Sa’ad bin Ubadah. Sementara kam Muhajirin, menekankan aspek kesetiaan dan perjuangan pada masa awal-awal pengembangan islam di Mekah hingga Madinah. Untuk itu, mereka mengajukan nama calon yaitu Abu Ubadah bin Jarah. Sedang Ahlul Bait menghendaki Ali bin Abi Thalib dicalonkan sebagai khalifah. Pengajuan nama Ali dalam permusyawaratan tersebut didasari atas jasa, kedudukan dan statusnya sebagai anak angkat sekaligus menantu Rasulullah.

Perdebatan siapa yang paling berhak menggantikan kedudukan Nabi SAW. sebagai kepala pemerintahan, hampir menimbulkan konflik internal dikalangan umat islam, antara Muhajirin dengan Anshar dan Bani Abbas. Melalui perdebatan panjang dengan argumentasi masing-masing, akhirnya Abu Bakar disetujui secara aklamasi menduduki jabatan khalifah.

Selesai dipilih, Abu Bakar berpidato yang isinya: “… Saudara-daudara sekalian, sekarang saya terpilih sebagai khalifah. Meskipun saya bukan yang terbaik dari siapapun diantara kalian, tetapi saya harus menerima amanah ini. Oleh karena itu, bantulah saya bila berada dalam jalan yang benar. Perbakilah saya bila berada di jalan yang salah.” Lalu pidato itu diakhiri dengan ucapan, “… patuuhlah kepadaku sebagai mana aku mematuhi Allah dan rasulnya. Jika aku tidak mematuhi Allah dan rasulnya, jangan sekali-kali kalian mematuhi aku.”

Pidato tersebut menggambakan kepribadian Abu Bakar dan kejujuran serta ketulusannya sebagai seorang pemimpin umat yang sangat demokratis. Beliau merasa bahwa tugas yang diembannya tidak akan berjalan dengan baik kalau tidak mendapat dukungan dari para sahabatnya. Karena itu, ia menginginkan agar masyarakat ikut serta dalam mengontrol perjalanan dalam kepemimpinannya agar pelaksanaan pemerintahan  berjalan dengan baik. Itulah tipe seorang pemimpin yang sangat demokratis, ia tidak gila kedudukan, jabatan dan harta.

2.      Khalifah Umar bi Khattab.

Umar bin Khattab dipilih oleh para pemuka masyarakat dan disetujui secara aklamasi oleh umat islam. Proses pengangkatan ini diawali dengan ijtihad Abu Bakar yang meminta Umar bersedia menggantikan kedudukannya kelak, jika ia meninggal dunia. Ijtihad ini didasari atas kenyataan dan pengalaman sejarah pada masa-masa awal pemilihan khalifah, yatu timbulnya krisis politik dan hampir berakibat pada munculnya  konflik internal umat islam, jika tidak segera diselesaikan oleh Umar Bin Khattab dan Abu Bakar. Berdasarkan pengalaman sejarah ini, maka khalifah Abu Bakar meminta Umar untuk menjadi penggantinya. Permintaan ini disetujui oleh Umar, hanya Umar meminta agar persoalan ini dibicarakan dahulu dikalangan tokoh masyarakat, supaya tidak terjadi salah paham. Permintaan itu dipenuhi, untuk itu kemudian Abu Bakar meminta pendapat para sahabat mengenai pilihannya itu, ketika mereka menjenguknya pada saat beliau terbaring sakit di tempat tidur. Pilihan itupun disetujui, kemmudian Abu Bakar menulis surat wasiat  untuk itu dan membai’a Umar Bin Khattab. Beberapa hari kemudian beliau meninggal dunia. Peristiwa ini terjaddi pada Jumadil Akhir tahun 13 H/634 M.

 3.      Utsman bin affan

Utsman bin Affan dipilih dan diangkat oleh dewan yang terdiri dari enam orang sahabat. Dewan ini dibentuk oleh khalifah Umar bin Kattab ketika beliau sedang sakit. Prosedur ini ditempuh guna memaksimalkan potensi yang dimiliki masing-masing sahabat, selain selain masih mempertahankan prinsip syura, yang diajarkan oleh Nabi SAW. hanya modelya yang berbeda dibandingkan dengan model pemmilihan masa sebelumnya. Pemilihan melalui dewan enam ini diharapkan menghaslkan calon pemimpin handal ynag mampu menjalankan amanah demi penegakkan Islam dan pengembangannya ke luar Jazirah Arabia.

Yang disebut Dewan Enam tersebut adalah Utsman bi Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Dewan ini bertugas memilih salah seorang diantara mereka yang akan menggantikannya sebagai khalifah. Abdurrahman bin Auf dipercaya menjadi ketua panitia pemilihan tersebut.

Ketika pelaksanaan pemilihan yang berlangsung setelah khalifah Umar bin Khattab meninggal tersebut ternyata menemui kesulitan, terutama dalam masalah calon peserta. Hal ini disebabkan karena; pertama, berdasarkan pendapat umum bahwa mayoritas masyarakat menginginkan Utsman bin Affan menjadi khalifah. Kedua, dikalangan sahabat yang dicalonkan timbul perbedaan pendapat. Abdurrahman bin Auf cenderung kepada Utsman bin Affan, sementara Sa’ad bin Abi Waqqash menginginkan Ali bin Abu Thalib sebagai khalifah. Ketiga, diantara sahabat nabi yang dicalonkan ada yang sedang di luar kota, sehingga belum dapat dikeahui pendapatnya. Keempat, baik Utsman maupun Ali, masing-masing memiliki keinginan untuk menjadi khalifah. Namun berka ketekunan dan kebijaksanaan Abdurrahman bin Auf, akhirnya proses pemilihan berjalan lancar dan menghasilkan keputusan bahwa Utsman terpilih menjadi khalifah dengan perolehan 4 suara, sedang Ali memperoleh 2 suara.

4.      Ali bin Abi Thalib

Tampilnya Ali bin Abi Thalib ke pucuk kepemimpinan, ketika negara tengah mengalami krisis social dan politik, akibat peristiwa terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan oleh para pemberontak yang tidak setuju atas berbagai kebijakan yang dikeluarkan selama masa pemerintahannya. Ali diangkat oleh jamaah umat islam dan sebagian besar adalah para pemberontak . dalam situasi seperti itu, harus ada tindakan nyata untuk mengatasi krisis kepemimpinan. Akan tetapi, tidak seorangpun ketika itu yang mau diangkat menjadi khalifah, selagi Ali masih hidup.

Kebijakan-kebijakan khalifah pada masa Khulafa Ar-Rasyidin.

1.      Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Abu Bakar menjadi kholifah hanya 2 tahun. Pada tahun 634 M beliau meninggal dunia. Masa sesingkat itu habis untuk menyelesaikan berbagai persoalan, terutama persoalan yang menyangkut dalam negeri. Diantara kebijakan politiknya yang cukup menonjol adalah:

a)      Melanjutkan Ekspedisi Pasukan Usamah

Sebelum Rosulullah SAW wafat, beliau telah memerintahkan sepasukan perang yang dipimpin oleh seorang anak muda, Usamah, untuk berjalan menuju tanah Al-Balqa yang berada di Syam, persisnya di tempat terbunuhnya Zaid bin Haritsah, Ja’far dan Ibnu Rawahah. Namun di tengah perjalanan terdengar berita wafatnya Rosulullah SAW, sehingga pasukan tersebut kembali ke kota Madinah.

Begitu Abu Bakar menjadi kholifah, maka ekspedisi ini dilanjutkan kembali. Semula banyak sahabat yang mengusulkan termasuk Umar bin Khattab, agar ekspedisi ini ditunda mengingat banyaknya persoalan di kota Madinah. Namun Abu Bakar tetap pada pendiriannya.

Ternyata berangkatnya pasukan Usamah membawa kemaslahatan besar waktu itu. Disamping pulang dengan membawa kemenangan, juga sekaligus telah menimbulkan kegentaran besar pada perkampungan Arab yang dilewati sehingga tidak berani memberontak.[1]

b)      Menumpas Kaum Murtad Dan Orang-orang Yang Menolak Membayar Zakat

Ketika Rosulullah SAW wafat, maka banyak orang Arab yang kembali murtad. Seiring dengan itu, banyak pula utusan orang-orang Arab berdatangan ke Madinah mengakui kewajiban sholat namun mengingkari kewajiban zakat.

Abu Bakar bersikap tegas kepada mereka, dan merekapun ditumpasnya. Melihat hal ini, Umar pun berkata: “Akhirnya aku sadari bahwa Allah telah melapangkan hati Abu Bakar untuk memerangi mereka dan aku yakin itulah yang benar”.[2]

c)      Menumpas Orang-orang Yang Mengaku Menjadi Nabi

Disamping banyak umat yang murtad dan menolak bayar zakat, ada pula beberapa orang yang mengaku menjadi nabi, diantaranya yang paling berpengaruh adalah Musailamah Al-Kadzab. Ia memiliki pengikut mencapai 40.000 personil dari kalangan Bani Hanifah.[3]

Abu Bakar mengirim pasukan yang dipimpin Khalid bin Walid untuk menumpas mereka. Dalam perang Yamamah yang hebat, Khalid bin Walid memperoleh kemenangan yang besar.

d)     Mengirim Pasukan Ekspansi Ke Wilayah Iraq Dan Syiria

Setelah berhasil mengatasi persoalan dalam negeri, mulailah Abu Bakar berkonsentrasi untuk melakukan ekspansi ke luar negeri. Kesungguhannya untuk menaklukkan negeri Iraq pada periode ini merupakan langkah awal menaklukkan wilayah-wilayah timur pada masa khulafaur rosyidun berikutnya. Dan pada periode perdana ini pasukan dipimpin oleh Panglima Perang Khalid bin Wahid[4], Abu Ubaidah, Amru bin Ash, Yazid dan Syurahbil.[5]

e)       Membukukan Al-Qur’an Dalam Satu Mushaf

Di samping itu, Jasa Abu Bakar yang abadi ialah atas usulan Umar, ia berhasil membukukan al-Qur’an dalam satuan mushaf, sebab setelah banyak penghafal al-Qur’an gugur dalam perang Riddah di Yamamah. Oleh karena itu, khalifah menugaskan Zaid ibn Tsabit untuk membukukan al-Qur’an dibantu oleh Ali ibn Abi Thalib. Naskah tersebut terkenal dengan naskah Hafsah yang selanjutnya pada masa khalifah Usman membukukan al-Qur’an berdasarkan mushaf itu, kemudian terkenal dengan Mushaf Utsmani yang sampai sekarang masih murni menjadi pegangan kaum muslim tanpa ada perubahan atau pemalsuan. (Abdul Karim, 2007:84)

2.      Khalifah Umar bin Khattab.

Umar menjabat sebagai kholifah selama 10 tahun (634-644 M). Selama masa pemerintahannya ada beberapa kebijakan politik yang dijalankannya, antara lain:

a)      Melanjutkan Ekspansi Yang Telah Dirintis Abu Bakar

Setelah memangku jabatan kekhalifahan, Umar melanjutkan kebijakan perang yang telah dimulai oleh Abu Bakar untuk menghadapi tentara Sasania maupun Bizantium baik di Front Timur (Persia), Utara (Syam) maupun di Barat (Mesir). Pada periode Khalifah Umar, peta Islam meluas di Timur sampai perbatasan India dan sebagian Asia Tengah di Barat sampai Afrika Utara.[6]

b)      Reformasi dalam Pemerintahan

Beliaulah khalifah yang pertama kali membentuk tentara resmi, membuat undang-undang perpajakan, membuat sekretariat, menentukan gaji tetap, menempatkan para godhi, membagi-bagi wilayah yang ditaklukkan menjadi beberapa gubernuran (propinsi) dan ada majlis syura.[7]

c)      Mengatur Tata Pertanahan

Kebijakan yang paling fenomenal adalah kebijakan ekonomi Umar di Sawad (daerah subur). Umar mengeluarkan dekrit, bahwa orang Arab termasuk tentara dilarang transaksi jual beli tanah di luar Arab. Hal ini memancing reaksi anggota Syura’, namun Umar memberi alasan, mutu tentara Arab menurun, produksi menurun, negara rugi 80% dari pendapatan, dan rakyat akan kehilangan mata pencaharian (sawah) menyebabkan mereka akan mudah berontak terhadap negara.[8]

d)     Reformasi dalam Budaya

Beliaulah yang pertama kali digelari Amirul Mukminin, yang menetapkan penanggalan hijriyah mengumpulkan manusia untuk sholat taraweh berjamaah, mendera peminum khomer 80x cambukan, dan berkeliling di malam hari menghontrol rakyatnya di Madinah.

3.      Khalifah Utsman bin Affan.

Utsman menjabat sebagai kholifah selama 12 tahun. Selama pemerintahannya itu, keadaan bisa dibagi menjadi 2 periode, yaitu periode kemajuan dan periode kemunduran[9]. Periode I pemerintahannya membawa kemajuan luar biasa, sedang periode II kekuasaannya identik dengan kemunduran dan huru-hara yang luar biasa sampai akhirnya beliau tewas di tangan pemberontak.

Ada beberapa kebijakan politik Utsman yang cukup menonjol, antara lain:

a)      Melanjutkan Ekspansi Wilayah Islam

Pada masa pemerintahannya, berkat jasa para panglima yang ahli dan berkualitas, di mana peta Islam sangat luas dan bendera Islam berkibar dari perbatasan Aljazair (Barqah dan Tripoli, Syprus di front al-Maghrib bahkan ada sumber menyatakan sampai ke Tunisia) di al-Maghrib, di Utara sampai ke Aleppo dan sebagian Asia Kecil, di Timur Laut sampai ke Ma Wara al-Nahar – Transoxiana – dan di Timur seluruh Persia, bahkan sampai di perbatasan Balucistan (wilayah Pakistan sekarang), serta Kabul dan Ghazni.[10]

b)      Membentuk Armada Laut yang Kuat

Pada masa pemerintahannya, Utsman berhasil membentuk armada laut dengan kapalnya yang kokoh sehingga berhasil menghalau serangan-serangan di Laut Tengah yang dilancarkan oleh tentara Bizantium dengan kemenangan pertama kali di laut dalam sejarah Islam.[11]

c)      Menggiatkan Pembangunan

Utsman berjasa membangun banyak bendungan untuk menjaga arus banjir yang besar dan mengatur pembagian air ke kota-kota. Beliau juga membangun jalan-jalan, jembatan-jembatan, masjid-masjid dan memperluas masjid Nabi di Madinah.[12]

d)      Menulis Kembali Penulisan Mushaf Al-Qur’an

Diantara jasa Utsman yang besar adalah telah menyatukan kaum muslimin pada satu qiro’ah dan dituliskannya bacaan Al-Qur’an terakhir yang diajarkan oleh Jibril kepada Rosulullah SAW yakni ketika Jibril mendiktekan Al-Qur’an kepada Rosulullah pada tahun terakhir masa hidup beliau.[13]

Utsman meminta mushaf yang disimpan oleh Hafshah yang merupakan hasil pengumpulan pada masa Abu Bakar, untuk ditulis kembali. Maka ditulislah satu mushaf Al-Qur’an untuk penduduk Syam, satu mushaf untuk penduduk Mesir, satu mushaf untuk penduduk Basrah, satu mushaf dikirim ke Kufah, begitu juga ke Makah dan Yaman, serta satu mushaf untuk Madinah.[14]

 Demikianlah beberapa jasa Utsman yang cukup menonjol. Pada paroh terakhir masa kekholifahannya muncul perasaan tidak puas dan kecewa di kalangan umat Islam terhadapnya. Kepemimpinan Utsman memang sangat berbeda dengan kepemimpinan Umar. Ini mungkin karena umurnya yang lanjut (diangkat dalam usia 70 tahun) dan sifatnya yang lemah lembut. Akhirnya pada tahun 35 H/655 M, Utsman dibunuh oleh kaum pemberontak yang terdiri dari orang-orang yang kecewa itu.[15]

Menurut Badri Yatim (1993:38), salah satu faktor yang menyebabkan banyak rakyat kecewa terhadap kepemimpinan Utsman adalah kebijaksanaannya mengangkat keluarga dalam kedudukan tinggi (nepotisme). Namun anggapan nepotisme yang demikian ditolak oleh Abdul Karim. Menurut Abdul Karim (2007:105) bahwa nepotisme Utsman tidak terbukti. Karena, pengangkatan saudara-saudara berangkat dari profesionalisme kinerja mereka di lapangan. Akan tetapi memang pada masa akhir kepemimpinan Utsman, para gubernur yang diangkat tersebut bertindak sewenang-wenang terutama dalam bidang ekonomi. Mereka di luar kontrol Utsman yang memang sudah berusia lanjut sehingga rakyat menganggap hal tersebut sebagai kegagalan Utsman, sampai pada akhirnya Utsman mati terbunuh.

4.      Khalifah Ali bin Abi Thalib.

a)      Memecat Gubernur yang Sewenang-wenang

Khalifah Ali segera memecat para gubernur yang diangkat oleh Utsman, dikarenakan beliau yakin bahwa terjadinya pemberontakan-pemberontakan itu disebabkan oleh keteladanan politik kebijaksanaan mereka.

b)      Menarik Kembali Tanah yang Dihadiahkan oleh Utsman

Salah satu kelemahan Utsman adalah mengijinkan orang-orang Arab menguasai tanah-tanah subur disekitar wilayah yang baru dikuasainya. Hal ini dimasa Umar tidak diperbolehkan terjadi. Akibatnya penduduk pribumi kehilangan sumber perekonomiannya. Utsman juga menghadiahkan tanah-tanah kepada para pendukung yang disayanginya.

Begitu Ali menjadi kholifah, beliau menarik kembali tanah yang oleh pendahulunya dihadiahkan kepada para pendukungnya itu dan menyerahkan hasil pendapatannya kepada negara, serta memakai kembali. Sistem distribusi persen tahunan diantara orang-orang Islam sebagaimana pernah diterapkan Umar.[16]

c)      Menumpas Para Pembangkang

Tidak semua masyarakat Islam taat kepada pemerintahan Ali. Diantaranya adalah Thalhah, Zubair dan Aisyah. Alasan mereka, Ali tidak mau menghukum para pembunuh Utsman, dan mereka menuntut bela terhadap darah Utsman.[17]

Ali mengirim surat kepada Thalhah dan Zubair agar keduanya mau berunding untuk menyelesaikan perkara ini secara damai. Namun ajakan itu ditolak. Akhirnya pertempuran yang dahsyatpun berkobar. Perang ini dikenal dengan nama perang “Jamal”. Zubair dan Tholhah terbunuh, sedangkan Aisyah ditawan dan dikirim kembali ke Madinah.

d)     Pusat Pemerintahan dari Madinah ke Kufah

Ali memindahkan ibu kota dari Madinah ke Kufah (Januari 657 M) di karenakan para pengikut Ali paling banyak berada di Kufah.[18]

e)     Berusaha Menghentikan Perlawanan Mu’awiyah

Kebijakan-kebijakan Ali juga mengakibatkan timbulnya perlawanan dari gubernur di Damaskus, Mu’awiyah, yang didukung oleh sejumlah bekas pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaan.

Dari Kufah Ali bergerak menuju Damaskus dengan sejumlah besar tentara. Pasukannya bertemu dengan pasukan Mu’awiyah di Shiffin. Perang ini diakhiri dengan tahkim, tapi tahkim ternyata tidak menyelesaikan masalah, bahkan menyebabkan timbulnya golongan ketiga, khowarij. Akibatnya, dipenghujung pemerintahan Ali, umat Islam terpecah menjadi 3 kekuatan politik, yaitu Mu’awiyah, Syi’ah (pengikut Ali) dan Khowarij (orang-orang yang keluar dari Ali)

Keadaan ini tidak menguntungkan Ali, sementara posisi Mu’awiyah semakin kuat. Pada tanggal 20 Ramadhan Tahun 40 H (660 M), Ali terbunuh oleh salah seorang anggota Khawarij[19]. Dengan demikian berakhirlah masa Khulafa Ar-Rasyidin.

Simpulan

Dalam catatan sejarah islam klasik, persoalan pertama yang muncul dan menjadi masalah besar setelah Rasulullah wafat adalah soal suksesi. Persoalan ini muncul karena sejak awal kepemimpinan Rasulullah hingga akhir hayatnya, beliau tidak memberikan isyarat atau atau menunjuk kira-kira siapa yang akan menggantikan posisinya sebagai seorang kepala negara dan kepala pemerintahan. Persoalan ini sepenuhnya diserahkan kepada masyarakat muslim untuk melakukan proses pemilihan setelahnya dengan mekanisme yang didasari atas prinsip syura. Prinsip dasar ini kemudian diterapkan pada masa-masa awal ketika kelompok ketika masyarakat Muhajirin dan Anshar tengah mendiskusikan persoalan khilafah di Tsaqifah Bani Saidah. Dengan mekanisme dan prinsip syura, akhirnya terpilihlah Abu Bakar sebagai pengganti jabatan Nabi Muhammad sebagai kepala pemerintahan dan negara. Para pengganti Rasulullah sebagai dalam masalah kepemimpinan negara dalam sejarah Islam disebut Khulafa Al-Rasyidin, yaitu para khalifah yang mendapat petunjuk Allah untuk menjalankan amanat demi kebenaran.

Sementara Umar Bin Khattab diangkat dan dipilih oleh para pemuka masyarakat dan disetjui secara aklamasi oleh umat muslim. Proses pengankatan ini diawali dengan ijtihad Abu Bakar yang meminta Umar bin Khattab bersedia menggantikan kedudukannya kelak, jika ia meninggal dunia.

Sedang Utsman bin Affan dipilih dan diangkat oleh dewan yang dibentuk khalifah Umar, prosedur ini ditempuh guna memaksimalkan potensi yang ada di masing-masing sahabat, selain tetap mempertahankan prinsip syura, yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.

Sementara itu tampinya Ali bin Abi Thalib kepucuk kepemimpinan, ketika negara mengalami krisis politik, akibat peristiwa terbunuhnya Utsman bin Affan oleh pemberontak yang tidak setuju atas kebijakan yang dikeluarkan selama masa pemerintahannya.


[1] Ibnu Katsir, 2006:73

[2] Ibnu Katsir, 2006:76

[3] Ibnu Katsir, 2006:101

[4] Ibnu Katsir, 2006:119

[5] Badri Yatim, 1993:36

[6] Abdul Karim, 2007:84

[7] Ibnu Katsir, 2006:170

[8] Abdul Karim, 2007:86

[9] Abdul Karim, 2007:90

[10] Abdul Karim, 2007:91

[11] Abdul Karim, 2007:91

[12] Badri Yatim, 2003:39

[13] Ibnu Katsir, 2006:349

[14] Ibnu Katsir, 2006:350

[15] Badri Yatim, 1993:38

[16] Hasan Ibrahim Hasan, 1989:62

[17]Badri Yatim, 1993:39

[18] Abdul Karim, 2007:107

[19] Badri Yatim, 1993:40

DAFTAR PUSTAKA

Sutiah, Ratu dan Maslani. 2011. “Sejarah Perdaban Islam”. Bandung: CV Insan Mandiri.

Murodi, Dr. 2011. “Sejarah Kebudayaan Islam”. Semarang: PT Karya Toha Putra.

Ali, K. 1997. “Sejarah Islam; Tarikh Pramodern”. Jakarta: Sri Gunting.

Badri, Yatim. 1988. “Sejarah Peradaban Islam”. Jakarta: P3M.

About Agus Wahyu Fauzi, S.Pd.I.

Aku yang rindu perubahan, Dalam kesendirianku, mulailah perubahan pertamamu, yaitu: - Kukatakan: Aku jiwa yang mandiri. Kedamaianku adalah pilihanku, yang mungkin sedikit terusik oleh ketidak ramahan orang lain, tapi tetap akulah yang memutuskan untuk merasa damai bersama diriku sendiri. Aku jiwa yang berhak untuk berhasil. Maka akan ku gunakan apa yang ada pada diriku, untuk belajar dan bekerja yang menjadikanku keuntungan bagi orang lain. Mudah-mudahan dengannya, tuhan melembutkan hati orang lain kepadaku, agar mereka memperlakukanku dengan lebih ramah dan santun, dan aar kehidupan ini berlaku lembut kepada hatiku . Tuhanku yang maha sejahtera, Damaikanlah aku bersama diriku sendiri, gagahkanlah hatiku dalam pelajaran dan pekerjaanku, dan jadikanlah aku pribadi yang penting bagi kebaikan hidup sesamaku.. Ameeenn..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s